DEFINISI SAFETY

Definisi Safety Driving dan Safety Riding

Oleh: Sukarman Mustamin
Sent on milis FORWOT: Friday, February 29, 2008 12:18:17 AM

 

Saya akan coba memanfaatkan blog Forwot. Selain itu, dalam waktu yang mudah-mudahan tidak terlalu lama, saya juga akan meluncurkan web www.smartdriveindonesia.com.

 

Materinya sedang disiapkan dengan program SmartDrive TV hanya bagian kecil dari contents. Idealnya, web ini bisa link dengan Forwot. Banyak hal yang memang perlu dikomunikasikan, termasuk yang sangat mendasar.

 

Misalnya, istilah teman-teman dalam penulisan. Safety Driving atau Safety Riding, sudah gak siginifikan digunakan, karena ilmu safety driving/riding hanya dikenal tahun 1920-an.

 

Dasarnya, ketika itu kendaraan bermotor baru mulai dikenal tapi kondisi jalan belum terlalu mendukung dan situasi lalu lintas belum se-semrawut sekarang. Makanya, pengguna kendaraan (bermotor) harus diajarkan tata cara menggunakannya dengan aman (safety).

 

Tahun 1950-an, terjadi perubahan. Kendaraan masih menggunakan motor penggerak dan semakin powerful. Kondisi jalan mulai padat tapi kualitas jalannya ikut meningkat. Yang aspek pertama dan yang ketiga ini bisa memancing pengguna kendaraan untuk mengeksploitasi semaksimal mungkin.

 

Angka kecelakaan mulai meningkat. Maka, para ahli di bidang transportasi mulai memperkenalkan yang namanya defensive driving. Pengemudi harus bersikap defens, agar tak terjadi konfrontasi atau tidak muncul bahaya.

 

Tahun 1990-an, situasi lalu lintas semakin kompleks. Bahaya mengancam di mana-mana di sepanjang jalan yang kita lalui. Lahirlah kemudian metode baru, low risk driving. Metode ini, berada di kutub yang berlawanan dengan racing driving yang basisnya adalah high risk driving.

 

Kalau dikaitkan dengan profesi, low risk driving itu kira-kira sama dengan mereka yang mengambil profesi pegawai negeri. Nyaris tak ada risiko dan di hari tua dapat pensiunan. Kalau high risk driving, ibaratnya seorang pialang atau gambler.

 

Kalau lolos, hasilnya luar biasa. Kalau gagal, ya crash. Makanya, kalau seorang pembalap, area menyalip lawan yang paling bagus ya di tikungan yang sulit. Masuk ke racing line di bagian dalam dan menutup line buat lawan (kayak Rossi di lap terakhir seri awal GP500 tahun ini).

 

Yang tengah-tengah juga ada, namanya moderate risk, umumnya diaplikasi seorang yang berprofesi pengusaha.
Smart Driving Institute (SDI) sendiri, saya bangun dengan melahirkan metode baru. Yakni, gabungan antara Low Risk Driving, Phsycho Analysis serta Aplikasi Teknologi paling mutakhir di dunia Otomotif.

 

Ini lebih kompleks dan melibatkan multi-disiplin keilmuan. Saya merangkul beberapa pakar, termasuk psikolog yang sebelumnya menyusun SOP para pilot pesawat Garuda untuk masuk ke dalam tim perumus metode ini.

 

Berita baiknya, pihak Departemen Perhubungan tertarik dengan konsep ini dan kemungkinan besar akan diaplikasi dalam berbagai program Dephub, terutama yang di bawah Dirjen Hubdar. Tentu, saya sangat berkeinginan mendapat support dari Forwot, agar masalah lalu lintas di Tanah Air ini bisa sedikit demi sedikit terurai.

 

Sejujurnya lagi, saya membutuhkan dukungan banyak pihak, karena secara pribadi masih cukup berat mendanai sendiri program-program yang terkait dengan rancangan SDI ini. Tahun lalu, program campaign sudah mulai terlaksana, meskipun tidak menggunakan seluruh modul SDI. Tapi itu sudah cukup sebagai awalan.

 

Mudah-mudahan, ke depan bisa berbuat lebih banyak.
Satu hal, ada beberapa pemikiran dari SDI yang bisa disinergikan dengan kepentingan media (konvensional) , terutama media otomotif yang memerlukan dukungan dari pihak ATPM juga. Apa itu? Saya terbuka untuk mendiskusikan dengan pihak media mana pun yang berminat dan serius.

 

Yang pasti, kue iklan untuk media ybs akan diperoleh bila mampu menggiring kesadaran pihak ATPM. Buat sesuatu, cita-cita saya untuk berbuat sesuatu bagi dunia otomotif, bisa terwujud. Jadi, monggo…


 

 Salam,

Karman  ******

 


Catatan Moderator

Tentang Sukarman Mustamin

 
Sukarman Mustamin merupakan wartawan senior bidang peliputan otomotif. Pria ini menjadi orang Indonesia dan Asia pertama (selain Jepang) yang masuk dalam daftar wartawan peliput di F1 yang terakreditasi, dan daftar personel PR tim F1 yang diterbitkan oleh Agnes Carlier (1993).
 
Waktu ini terpaut cukup jauh sebelum wartawan Asia lainnya, seperti Malaysia, India dan sebagainya mendapat akreditasi peliputan F1.
 
Tahun 1994, Sukarman bergabung dengan tim wartawan dan personel senior F1 yang dikenal dengan kelompok “Old House’ (un-official). Mereka ini terdiri atas Gerard ‘Jabby’ Crombac (Almarhum), Martin Whitaker (pernah sebagai Media Delegate FIA), Ian Hutchinson (pensiun dan sekarang punya ranch di Australia), Eric Silbermann, Agnes Carlier beserta suaminya, Monsieur Laborderie, Keith & Mark Sutton, Jad Sherif (photographer), dll.
 
Di tahun 1994 itu, Sukarman sekaligus mendapat akreditasi tertinggi berupa ID-card untuk Start Line. Artinya, dia boleh masuk sampai grid, berbicara dengan pembalap, jalan bersama Bernie Ecclestone, hingga 10 menit sebelum balapan dimulai.
 
Waktu itu, ID card F1 sangat sulit karena harus mendapatkan rekomendasi dari tim atau wartawan senior lainnya. Persoalannya, Sukarman tak ingat siapa wartawan Indonesia pertama yang diberikan rekomendasi oleh dirinya untuk meliput F1.
 
Momen paling penting yang Sukarman dapat tahun 1994, ketika dia menjadi wartawan Indonesia satu-satunya yang menyaksikan tragedi tewasnya Senna di sirkuit Imola, 1 Mei 1994.
 
Padahal 4 hari sebelumnya, 26 April 1994, Sukarman diundang Senna menghadiri peluncuran sepeda gunung bermerek Senna hasil kerja sama dengan Carraro Cycli di Padova, Italia.
 
Tragedi ini sekaligus menggagalkan rencananya meliput CART di Indianapolis Speedway. Padahal, atas rekomendasi para wartawan sepuh di F1, Sukarman sudah dapat fax konfirmasi bahwa akreditasinya disetujui oleh CART. Ini juga merupakan akreditasi ID-Card pertama yang dikeluarkan CART untuk wartawan Asia.
 
Jadi, Sukarman sebagai wartawan Indonesia, boleh merasa sombong dari wartawan Malaysia yang kelihatannya sekarang ini merasa lebih tahu tentang F1. Sementara mereka baru mengenal F1 sekitar tahun 1998 atau 1999.

 

Responses

  1. Asik euy… ada blognya Forwot secara tidak sengaja klik untuk nyari infonya Pak Karman.
    Diupdate terus yah… Rgds. Rani

  2. Isinya mantab dan dalam pak de. Kapan kita bisa share masalah ini, kebetulan media tempat saya cletak-cletuk membutuhkan informasi penting tentang safety riding maupun SDI. Mohon petunjuknya pak de…matursuwun.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.